Tidak berselang waktu yang lama, muncul bayang gelap perlahan muncul. Perlahan dan sangat perlahan. "Aku mulai percaya Dia tidak membodohi ku" ucap ku dalam hati sambil aku garukkan tanganku ke kepala seperti halnya orang-orang bingung lakukan.
Selang beberapa menit kemudian, bayang itu tampak sempurna. Sesosok bayang manusia tengah bersimpuh, mengalirkan air matanya. Aku tahu air matanya berlinang karena bayang tetesan air jatuh dari bayang wajah itu. "Tuhanku apa sebenarnya yang Dia ingin tunjukkan. Aku tidak tega melihat air mata itu jatuh dari balik bayang. Siapa sosok itu.?" dalam hati ku berkata-kata, aku tidak mau bertanya kembali ke Dia. Karena aku yakin tak akan ada jawaban yang berarti dari mulutnya.
"Sudah. Sudahkah tampak disana dengan jelas bayang itu.?" Dia pun bertanya.
"Ya. Jelas tampak. Tapi aju tak tahu itu siapa dan dia kenapa, dan satu hal lagi untuk apa kau menujukkan itu padaku.?" tanyaku membalas pertanyaannya. Diskusi ini mirip dengan metode diskusi socrates dalam pikirku, aku berharap dia menjawab namun dia hanya kembali melontarkan pertanyaan. Apa maksudnya.?
"Aku tahu banyak pertanyaan yang ingin kau tanyakan. Tapi tak pentinglah itu. Ayo kita lanjut berjalan ke arah sana. Ke arah bayang yang menangis itu." pintanya kepada ku sembari dia berjalan dengan cepat menjauhiku. Aku pun tak mau tertinggal olehnya. Aku berlari mengejarnya yang semakin jauh.
"Hei. Fir apa yang kamu lakukan disitu. Kau tadi berjalan dan bercakap-cakap sendiri. Aku aneh melihat mu." kata fira menyadarkan aku.
"Apa benar Fir aku seperti itu.?" balas aku bertanya kepadanya.
"Ya Fir. Aku melihat kamu seperti itu. Makanya aku mengkuti kamu sampai sini." balas Fira kepadaku lagi.
"Yasudahlah. Kita kembali aja ke kelas. Waktunya masuk mungkin" balasku sambil berlalu menuju kelas kami.
#Happy day
Selang beberapa menit kemudian, bayang itu tampak sempurna. Sesosok bayang manusia tengah bersimpuh, mengalirkan air matanya. Aku tahu air matanya berlinang karena bayang tetesan air jatuh dari bayang wajah itu. "Tuhanku apa sebenarnya yang Dia ingin tunjukkan. Aku tidak tega melihat air mata itu jatuh dari balik bayang. Siapa sosok itu.?" dalam hati ku berkata-kata, aku tidak mau bertanya kembali ke Dia. Karena aku yakin tak akan ada jawaban yang berarti dari mulutnya.
"Sudah. Sudahkah tampak disana dengan jelas bayang itu.?" Dia pun bertanya.
"Ya. Jelas tampak. Tapi aju tak tahu itu siapa dan dia kenapa, dan satu hal lagi untuk apa kau menujukkan itu padaku.?" tanyaku membalas pertanyaannya. Diskusi ini mirip dengan metode diskusi socrates dalam pikirku, aku berharap dia menjawab namun dia hanya kembali melontarkan pertanyaan. Apa maksudnya.?
"Aku tahu banyak pertanyaan yang ingin kau tanyakan. Tapi tak pentinglah itu. Ayo kita lanjut berjalan ke arah sana. Ke arah bayang yang menangis itu." pintanya kepada ku sembari dia berjalan dengan cepat menjauhiku. Aku pun tak mau tertinggal olehnya. Aku berlari mengejarnya yang semakin jauh.
"Hei. Fir apa yang kamu lakukan disitu. Kau tadi berjalan dan bercakap-cakap sendiri. Aku aneh melihat mu." kata fira menyadarkan aku.
"Apa benar Fir aku seperti itu.?" balas aku bertanya kepadanya.
"Ya Fir. Aku melihat kamu seperti itu. Makanya aku mengkuti kamu sampai sini." balas Fira kepadaku lagi.
"Yasudahlah. Kita kembali aja ke kelas. Waktunya masuk mungkin" balasku sambil berlalu menuju kelas kami.
#Happy day
Tidak ada komentar :
Posting Komentar